Rabu, 21 November 2012

Menembus Ruang dan Waktu


Refleksi Kuliah Rabu,7 November 2012  (Ke-4)
Dosen : Prof. Dr. Marsigit . Kelas Pendidikan Matematika Bilingual 2009. Jurdikmat UNY
                                        

Berfilsafat itu meliputi banyak hal, terkait dengan banyaknya pula pendapat para filsuf. Pikiran, sejarah, logika, pengalaman berpikir dan pengalaman lainnya termasuk di dalamnya adalah filsafat. Berfilsafat, kta perlu mendeskripsikan secara lebih rinci dan derail tentang yang ada dan yang mungkin ada. Untuk itu kita perlu menembus ruang dan waktu. Apa yang dimaksud dengan menembus ruang dan waktu? Apakah kita semua sedang menembus ruang dan waktu? Jawabannya tentu saja iya. Jangankan kita, orang awam, anak kecil, binatang, tumbuhan, bahkan batu saja dapat menembus ruang dan waktu. Sebuah batu melewati masa lampau sekarang dan masa depan, sebuah batu juga mengalami tempat dimana banyak hujan dan tempat dimana banyak panas di sekitarnya. Hal ini adalah contoh sederhana bagaimana sebuah batu saja dapat menembus ruang dan waktu.
Sebagai makhluk yang berpikir, tentu saja kita tidak begitu saja menembus ruang dan waktu. Ada 3 bekal yang dibutuhkan sehingga kita dapat menembus ruang dan waktu secara canggih dan professional, tidak sekedar menembus ruang dan waktu tanpa kita sadari dan tidak kita pikirkan seperti layaknya hewan, tumbuhan, atau benda mati. Hal yang pertama adalah memahami apa yang dimaksud dengan ruang dan waktu. Yang kedua adalahpaham tentang adanya filsafat fenomenologi, dan yang ketiga adalah memahami adanya filsafat fondosionalism dan antithesisnya yaitu antifondasionalism.
Bekal pertama adalah memahami apa yang disebut ruang dan waktu. Ruang- ruang yang kita tahu itu berdimensi. Secara umum di matematika ada ruang dimensi 1, 2, 3, 4, dan seterusnya. Tapi selain ruang- ruang tersebut kita memiliki ruang- ruang lain yaitu ruang berfilsafat. Ada 4 yaitu ruang spiritual, ruang formalis, ruang normative, dan ruang material. Masing- masing ruang memiliki tingkatan. Misalnya ruang spiritual seorang manusia setinggi- tingginya tidak akan melebihi tingkatan nabi, dan serendah rendahnya adalah ketika manusia tidak percaya Tuhan. Maka dalam filsafat, manusia berada pada ruang berdimensi tak hingga banyaknya. Ruang dan waktu juga menjadi orientasi kita selama menjalani hidup. Itulah kenapa pada tes kejiwaan, sering digunakan tes orientasi ruang dan waktu. Orang yang sakit jiwa kebanyakan mengalami disorientasi ruang dan waktu, ia tidak dapat memahami kapan dan dimana ia berada dengan benar. Sedangkan komponen kedua yaitu waktu yang kita tahu terbagi menjadi 3 yaitu waktu yang berlilitan, berkelanjutan, dan berkesatuan.
Bekal yang kedua adalah pemahaman tentang fenomenologi. Tokoh filsafat yang terkenal yang mendalami filsafat fenomenologi adalah Husserl. Dipaparkan bahwa ada 2 isi pokok dari fenomenologi yaitu abstraksi dan idealisasi. Terkesan formal, tetapi teori ini sebenarnya sangat dekat dengan kita.Bahasan isi pokok yang akan dibahas lebih lanjut adalah abstraksi. Apa itu abstraktif? Jadi sebenar- benar manusia itu adalah abstraktif. Manusia memilki kelebihan melihat apa saja yang didepan tetapi memiliki kelemahan tidak dapat melihat objek yang bertolak belakang dengan mata. Hal ini menyebabkan manusia harus memilih yang dilihat. Demikian pula untuk berpikir, manusia tidak dapat memikirkan segalanya pada saat yang sama. Dan hal serupa juga dialami manusia ketika berbicara, manusia tidak dapat sekaligus mengatakan apa yang dipikirkannya. Itulah alasannya manusia itu abstraktif. Ia harus memilih yang dilihat, dipikirkan, dan yang dikatakan. Bahkan kodrat manusia pun abstraktif. Tiap manusia hanya dilahirkan dari 1 ibu dari milyaran ibu yang ada.
Karena abstraktif atau reduksi inilah Husser membangun rumah yang disebut rumah Epoche. Yaitu rumah untuk membuang atau menyimpan apa saja yang tidak dipikirkan. Dalam arti harfiahnya adalah melupakan. Menggunakan Epoche sebenarnya sudah kita lakukan sejak lama tetapi mungkin tidak kita sadari. Berpikir matematis pun butuh epoche. Contohnya adalah memikirkan tentang segitiga, 95% sifat segitiga bisa jadi tidak perlu kita pikirkan. Yang perlu diperhatikan hanya ukuran dan bentuknya saja.
Bekal yang ketiga adalah memahami apa itu  fondasionalism dan antifondasionalism. Fondasionalism artinya memiliki dasaran. Kaum beragama misalnya, adalah kaum yang berfondasi bahwa Tuhan adalah kausa prima. Orang yang menikah, adalah kaum fondasionalism yang berfondasi pada ijab qabul. Contoh lainnya adalah para matematikawan murni, mereka adalah kaum fondalisionalism, karena mereka berpikir berdasarkan pada definisi- definisi, aksioma, teorema, dan seterusnya. Namun ternyata tidak semua yang ada di dunia ini bersifat fondasionalism. 90% hal di dunia ini berdasarkan pada intuisi yaitu antifondasionalism. Antifondasionalism adalah ketika kita tidak tahu kapan harus memulai, misalnya apakah kita bisa mengingat secara pasti kapan kita mengetahui apa itu besar dan kecil? Tentu saja sangat sulit, karena pemahaman besar dan kecil adalah suatu intuisi yang kita miliki.Bagaimana dengan pemahaman arti 2? Pakah 2 adalah 1+1? 2 kai 1? Bilangan prima? Memahami 2 bagi anak kecil yang belum sekolah tidak perlu definisi, 2 adalah jumlah tangan, jumlah mata. Mataku ada 2 . demikian kata anak balita. Jadi banyak hal di dunia ini yang menggunakan intuisi. Dan kurang berkembangnya matematika, bida jadi karena berpikir intuitif anak sudah terenggut oleh cara guru matematika mengajar. Sehingga anak hanya terkesan mengikuti arus dan rumus matematika yang diberikan, tanpa diberikan kesempatan menggunakan intuisinya.

Pertanyaan:
Bagaimana contoh mengajarkan matematika agar siswa menggunakan intuisinya?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar