Rabu, 07 November 2012

2 Hukum Dunia : Identitas dan Kontradiksi



            Di dunia ini ada 2 hukum yang berlaku. Yang pertama ada hukum identitas, yang kedua adalah hukum kontradiksi. Sadar atau tidak kita menggunakan kedua hukum ini dalam kehidupan.
            Hukum identitas adalah ketika subjek sama dengan predikat. Aku adalah aku, 2 adalah 2. Tetapi selagi kita sentitif dengan memperhatikan ruang dan waktu, hukum identitas ini tidak akan pernah terjadi. Dua hanya akan sama dengan dua jika kita memikirkan, jika kita mengucapkannya atau menuliskannya pasti sudah ada perbedaan ruang waktu. Ketika diucapkan , dua yang pertama diucapkan berbeda dengan dua yang diucapkan kedua. Begitu pula jika dituliskan, dua yang dituliskan di depan berbeda dengan dua yang dituliskan dibelakang. Jika ditelaah lagi, orang tidak pernah sama dengan namanya, dan ternyata hanya Tuhan lah yang dapat menyamai namanya.
            Hukum identitas memiliki sifat analitik. Salah satu ilmu analitik adalah matematika. Seperti yang kita ketahui, matematika hanya benar di pikiran secara filsafat. Sudah disebutkan sebelumnya bahwa 2=2, hal ini dalam matematika tentu adalah hal yang benar, karena matematika menggunakan sifat pemikiran analitik berdasarkan hukum identitas. Kebenaran matematika ada pada pikiran, pada prakteknya banyak hal yang dipejari dan dikerjakan dalam matematika bermula dari sesuatu yang diandaikan. Misalkan andaikan kita memilki segitiga ABC dengan siku- siku di B, dengan panjang AB=… dan seterusnya. Apa yang dilakukan dalam matematika ada dalam pikiran kita.
            Oleh karena itu di dalam berlogika (berpikir murni) sifat pengetahuannya analitik. Nilai kebenarannya dilihat dari kekonsistenan pengetahuan tersebut. Dalam matematika kekonsistenan itu adalah suatu hal yang utama harus dimiliki dalam konsepnya. Saat mengutarakan suatu definisi , aksoima ,dan kemudian teorema dalam matematika, semuanya harus konsisten dan tidak berubah- ubah. Dalam kasus lain, hal- hal seperti kesepakatan, janji, dan fundamen juga harus bersifat konsisten. Di samping itu, selain analitik berpikir, hukum identitas punya sifat apriori, yaitu merencanakan atau memikirkan sesuatu yang belum dilihat berdasarkan pada identitas. Secara tidak sadar sifat apriori ini kita gunakan dalam hidup. Selain dalam matematika dan ilmu, ilmu lain, kita tentu saha merencanakan atau memikirkan sesuatu yang belum terlihat.
            Berbeda dengan hukum yang pertama, hukum yang kedua adalah hukum kontradiksi ini memiliki sifat sintektik. Seperti yang ada dalam dunia pengalaman, nilai kebenarannya kontradiktif karena beberapa hal masih dalam bentuk potensi- potensi, belum fakta. Perbedaan yang lain adalah di dunia ini pengalaman bersifat apostoriori, yaitu seseorang tidak merencanakan tau tidak bisa merencanakan atau memikirkan. Contoh sederhana adalah bayi dan hewan, bayi dan hewan tidak dapat merencanakan sesuatu seperti halnya manusia dewasa.
            Jadi berfilsafat itu sebenarnya adalah berkontradiksi. Kemudian hal ini tentu berhubungan dengan hati manusia. Apakah hati manusia juga harus berkontradiksi? Tentu saja tidak. Berkontradiksi dalam hati akan berbahaya bagi iman kita. Maka dari itu antara hati dan pikiran ada ruang bernamana ruang epoche. Yaitu tempat untuk menyimpan pikiran- pikiran yang tidak mendukung. Misalnya di saat kita berdoa dan zikir, kita tentu perlu melupakan pikiran- pikiran yang tidak terkait dengan doa dan menyimpannya dalam epoche. Sehingga kita dapat mengintensifkan doa.
            Contoh lain menggunakan epoche adalah pergaulan remaja zaman sekarang. Seperti yang kita ketahui, kita hidup dengan etik dan estitika, ada norma- norma yang tentunya harus kita patuhi, ada aturan agama yang harus kita jalani. Sedangkan cara komunikasi remaja saat ini ada yang bisa dinilang tidak baik secara norma, bahkan dilarang secara agama. Maka dari itu hal- hal tersebut tidak kita pikirkan, hanya kita simpan dalam ruang epoche. Setelah itu kita perlu mengelola hati dengan berdoa.
Pertanyaan yang muncul : Telah dijelaskan pada pertemuan sebelumnya bahwan filsafat matematika dan filsafat pendidikan matematika tidak dapat disamakan. Jika landasan filsafat matematika ada hukum identitasnya, kemudian apa landasan filsafat pendidikan matematika? 
Refleksi Kuliah Filsafat Pend. Matematika ke-3. Dosen: Prof. Dr. Marsigit
Kelas Pendidikan MAtematika Bilingual 2009. Jurdik Mat UNY

Tidak ada komentar:

Posting Komentar