Refleksi
Kuliah Rabu, 3 Oktober 2012
Dalam
mempelajari filsafat, seperti yang telah dijelaskan pada refleksi sebelumnya,
tidak serta merta menghasilkan sesuatu yang pasti. Filsafat tidak seperti ilmu-
ilmu eksak yang kebenarannya dapat segera dipastikan. Makadari itu muncul
pertanyataan yang sederhana, yaitu ‘Apakah filsafat selalu membuat bingung?’. Bingung
dalam mempelajari filsafat adalah suatu kewajaran, yang penting adalah kita
berusaha untuk memahami, dan jangan berhenti berpikir, karena rasa bingung pada
dasarnya adalah dikarenakan kita masih dalam tahap belajar.
Pertanyaan
selanjutnya adalah ‘Bagaimana cara menjelaskan filsafat kita kepada orang
lain?’. Penjelasan segala sesuatu itu dapat dibedakan menjadi 2 hal, yaitu jika
yang dipikirkan itu ada di luar pikiran, dam kalau yang dipikirkan ada dalam
pikiran. Pada intinya kita harus dapat membuat orang lain memikirkan dahulu apa
yang ingin kita jelaskan. kemudian barulah kita mencari cara yang tepat untuk
menjelaskan pemikiran kita. Selain itu, membuat orang lain berpikir ada yang
ingin kita jelakan tidak harus membuat orang lain mengalaminya. Jadi berpikir
tanpa pengalaman tentu adalah sesuatu yang mungkin. Misalnya saja kita berpikir
takut kepad singa walaupun kita tidak pernah mengalami kejadian yang menakutkan
dengan singa secara langung. Itulah kekuatan berpikir. Walaupun sebenarnya
pikiran kita ada batasnya, yaitu tidak mungkin kita dapat menjelaskan semua
yang ada dan yang mungkin ada.
Pertanyaan
ketiga adalah ‘ Bagaimana mengembangkan orisinal pikiran kita tanpa terpengaruh
pemikiran orang lain?’. Pertanyataan seperti ini menunjukkan anggapan bahwa
pemikiran orang lain itu cenderung tidak baik. Padahal sebenarnya kita tidak
dapat menghakimi pemikiran orang lain buruk, karena banyak pula pemikiran orang
lain yang malah lebih baik dari pemikiran kita. Menganggap bahwa pemikiran
orang lain buruk dan obsesi membuat orisinalitas pemikiran sendiri dapat
membuat kita terisolir dari pemikiran dan dunia luar. Padahal manusia hidup itu
dipenuhi dengan interaksi dan hidup it uterus mengalir. Bahkan tidak ada satu
filsuf pun yang pemikirannya tidak terpengaruh filsuf lainnya.
Membangun
ilmu pengetahuan berdasar pada 2 hal, yaitu pikiran dan pengalaman. Jika kita
ingin membangun filsafat kita, maka dasarnya juga dari 2 hal itu, pikiran dan
pengalaman. dan yang namanya pengalaman adalah suatu hal yang masing- masing
orang berbeda. Tidak ada satu orang pun yang memiliki pengalaman yang sama
persis, pasti ada yang berbeda. Ada oarag yang diberi kesempatan memiliki
pengalaman sebgai orang miskin, atau pergi ke luar negeri, atau bertemu dengan
presiden , tetapi tentu ada pula orang yang yang tidak diberi kesempatan untuk
merasakan itu semua. Oleh karena itu untuk mengembangan filsafat kita, berbagai
pikiran daengan orang lain adalah sesuatu yang sangat penting. Sharing pemikiran menjadi keuntungan
bagi kita, karena dengan begitu kita dapat saling berbagi pengalaman dan
pemikiran. Hal- hal yang tidak dialami oleh kita tetapi dialami oleh teman kita
dapat disharing di sini. Sehingga pengetahuan kita tentunya akan semakin
bertambah. Kemudian pada akhirnya dari pengalaman, pemikiran, dan kegiatan
berbagi tu kita dapat mengambil hal- hal yang sekiranya sesuai dengan karakter
kita dan itu menjadi filsafat dan pemikiran kita.
Pertanyaan
selanjutnya masih mengenai orisinalitas, tetapi kali ini berfokus kepada
orisinalitas dalam berpikir. Agar pemikiran kita orisinil, maka yang pertama
kita lakukan adalah mencari pure reason, alas an yang murni untuk berpikir.
Yakni terbebas dari segala kedengkian dan pikiran lain sebaiknya disingkirkan
dulu, bukan dibuang, tetapi disimpan. Baru kemudian kita dapat berpikir dengan
baik.
Selanjutnya
kita perlu memikirkan bahwa hidup itu mengubah yang mungkin ada menjadi ada.
Filsafat pun demikian disadari atau tidak. Yang ada adalah apa yang kita miliki
pada masa lampau dan sekarang, dan yang mungkin ada adalah apa yang ada masa
depan, harapan dan cita- cita kita. Maka hidup itu pasti isinya adalah ikhtiar
dan berusaha, berusaha mewujudkan cita- cita menjadi nantinya sesuatu yang
benar- benar terjadi. Kemudian mengembangkan pola piker filsafat, yaitu dengan
metode hidup, Caranya kita dapat melihat sekeliling, melihat bagaimana tanaman
hidup, bagaimana burung hidup, secara makro dan mikro. Memperhatikan hal – hal
seperti itu membantu kita melihat dunia dari sisi yang berbeda. Lalu setelah
memperhatikan segalanya, perhatikan bumi dan tirulah bumi. Mengapa? Bumi selalu
perputar pada porosnya, bumi tidak pernah menempati tempat yang sama. Demikian
pula dengan kita yang tinggal di bumi. Tentunya kita tidak pernah menempati
ruang dan waktu yang sama. Maka teruslah berpikir dan berfilsafat.
Ada
seorang spiritualis berucap :’ Aku sedang melihat orang ramai lalu lalang,
tetapi sebagaian besar dari mereka bagainya mayat yang berjalan’ Mengapa?
Karena mereka lupa tidak ada doa dalam hatinya. Ternyata seorang filsuf pun
berpendapat demikian, tetapi dengan alas an yang berbeda, yaitu ‘Karena
sebagaian besar dari orang yang lalu lalang itu tidak berpikir, tidak
memikirkan pengalamannya’. Jadi pola piker filsafat itu adalah berpikir terus
menerus, ikhtiar untuk mencapai keseimbangan, karena akhir yang kita
inginkan untuk sukses adalah harmonis
dan seimbang.
Pertanyaan
yang muncul :
Ketika
kita mempelajari seatu pengetahuan pasti kita didasari oleh rasa bingung dan
ingin tahu, kemudian saat menggali lebih dalam pengetahuan itu mucul rasa
bingung baru kemudian muncul rasa ingin tahu untuk menggali lebih dalam lagi,
demikian seterusnya. Apakah siklus itu selalu terjadi, atau kah pada akhirnya
kita akan berhenti pada satu titik ketika rasa bingung itu tidak ada?
Sebelum membahas
jauh tentang arti filsafat, alangkah baiknya kita membahas posisi dan kedudukan
filsafat terlebih dahulu. Filsafat seperti halnya dunia, dapat ditempatkan di
depan kata apapun. Filsafat matematika, filsafat pendidikan, filsafat
pendidikan matematika, filsafat hidup, filsafat mati, filsafat lahir, dan
sebagainya. Walaupun demikian dalam substansinya nanti, filsafat dapat pula
diletakkan di tengah maupun di akhir suatu hal. Berbicara tentang filsafat
memang tidak semudah yang dikira banyak orang.
Dalam
hal ini, filsafat akan dikhususkan ke pendidikan matematika, tetapi sebelum
itu, kita harus membenahi cara berpikir kita dan menyiapkan hati dan pikiran
untuk siap menerima arti dan definisi filsafat. Baru setelah itu kita akan
masuk ke pendidikan matematika. Mempelajari filsafat membutuhkan suatu
kebebasan, kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat, bebas dari motif dan
tekanan lain yang biasa kita dapatkan dari luar diri kita. Berbeda dengan di
saat mempelajari hal atau ilmu lain. Dalam mempelajari filsafat , sebaiknya
dalam kedaaan tenang dan ‘berhenti sejenak’ dengan aktifitas yang tengah
dijalani.
Kecanggungan
mungkin akan dirasakan ketika mempelajari filsafat, karena pada awalnya kita
terbiasa dengan mempelajari sesuatu yang pasti, sedang pada filsafat terkadang
tidak semua yang dipelajari akan menjadi pasti pada akhirnya. Kebanyakan
filosof berujung pada kebingungan ketika mempelajari filsafat sampai batas
dimana akal manusia sulit menerima. Itulah kenapa dalam berfilsafat, sehatin
pikiran yang bekerja, hati dan iman juga harus menjadi pengontrolnya. Selain
itu setiap persoalan itu pada dasarnya dapat kita anggap sebagai tantangan,
yang pada akhirnya pasti akan muncul kemudahan disana. Begitu pula dengan
kesulitan kita mempelajari filsafat, pada akhirnya pasti akan menemukan titik
cerah dan titik kesimbangan dimana kita akhirnya dalam berhenti sejenak dari aktivitas
dan merefleksikan segala sesuatu tetapi tanpa tersesat karena tidak berpegang
pada hati dan iman.
Filsafat
dapat didefinisikan menjadi apa saja. Dan asumsi adalah salah satu tata cara
berfilsafat. Walapun pada dasarnya tata cara itulah atau asumsi itu sendiri
dapat pula menjadi filsafat itu sendiri. Asumsi yang pertama adalah, asumsi
bahawa kita adalah orang dewasa, dewasa dalam berpikir dan berperilaku. Hal ini
tentu saja dibutuhkan untuk dapat memahami filsafat. Dewasa berarti kita sudah
berbeda dengan anak- anak dan remaja yang masih labil. Kita masih memiliki rasa
ingin tahu sama halnya anak kecil, tetapi kita tentu mengungkap rasa ingin tahu
itu dengan cara yang berbeda. Kita tentunya dapat pula bertingkah sesuai dengan
kemauan kita, tetapi tentu saja tidak lagi sebebas dengan dahulu ketika masih
menjadi anak- anak. Itulah yang dibutuhkan untuk dapat menerima dan memahami
filsafat, yaitu penalaran logika dan pengalaman. Logika dan pengalaman, kedua
hal ini dibutuhkan untuk memahami segala sesuatu yang abstrak. Logika mungkin
dimikili oleh seorang anak kecil yang jenius, tetapi pengalaman tidak dapat
diperoleh secara instan begitu saja, pengalaman didapat secara terus menerus
dan berkelanjutan seperti halnya hidup ini berjalan.
Asumsi
yang kedua adalah ,jika hidup itu
diibaratkan sebuah perjalanan, maka saat ini adalah saat dimana kita sedang
berlari kencang, mengejar potensi- potensi kita agar nantinya menjadi fakta.
Sebagai mahasiswa kita baru menjadi calon sarjana, orang yang berpotensi menjadi
sarjana, tetapi belum menjadi sarjana, calon pegawai, belum menjadi pegawai,
calon wirausahawan sukses, tetapi belum menjadi fakta. Dan sekali lagi, dalam
kedaan berlari kencang seperti itu, kita sebaiknya berhenti sejenak dan melihat
sekeliling, dan seperti itulah asumsi kedua filsafat, mengolah pikiran kita.
Asumsi
yang ketiga adalah filsafat itu hidup. Hidup itu adalah ketika kita memiliki
pikiran, perasaan, ada daya, upaya, mampu berkata , menulis, dan banyak hal
lainnya. Asumsi yang keempat adalah sifat hidup. Tentunya sifat- sifst hidup
ini adalah sifat hidup yang baik. Yaitu hidup yang seimbang dan harmonis.
Sekacau apapun sesuatu di dunia ini, pada akhirnya pasti pada akhirnya mencari
keseimbangan, demikian pula manusia dalam hidupnya, mencari keseimbangan dan
harmoni.
Dari
beberapa asumsi itu, dapat disimpulkan bahwa mempelajari filsafat itu tidak
sama dengan mempelajari ilmu lain. Mempelajari filsafat pada akhirnya akan
berujung pada terbangunnya filsafat diri masing- masing. Karena masing- masing
orang memiliki hidup yang unik, pengalaman yang unik, tidak ada satupun dari
masing- masing orng di dunia mendapatan situasi, kondisi dan pengalaman hidup
yang sama persis, dan begitu pula dengan filsafatnya. Tetapi satu hal yang
harus diingat bahwa dalam berfilsafat kita boleh melangkah dan berpikir jauh,
tetapi tetap berbegang pada hati. Jika kita berfilsafat satu langkah, maka kita
perlu berdoa dan mendekatkan diri dengan Tuhan sebanyak 10 langkah. Hati
hendaknya menjadi komandan setiap saat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar