Sabtu, 06 Oktober 2012

Pertayaan yang Muncul Seputar Filsafat


Refleksi Kuliah Rabu, 3 Oktober 2012

Dalam mempelajari filsafat, seperti yang telah dijelaskan pada refleksi sebelumnya, tidak serta merta menghasilkan sesuatu yang pasti. Filsafat tidak seperti ilmu- ilmu eksak yang kebenarannya dapat segera dipastikan. Makadari itu muncul pertanyataan yang sederhana, yaitu ‘Apakah filsafat selalu membuat bingung?’. Bingung dalam mempelajari filsafat adalah suatu kewajaran, yang penting adalah kita berusaha untuk memahami, dan jangan berhenti berpikir, karena rasa bingung pada dasarnya adalah dikarenakan kita masih dalam tahap belajar.
Pertanyaan selanjutnya adalah ‘Bagaimana cara menjelaskan filsafat kita kepada orang lain?’. Penjelasan segala sesuatu itu dapat dibedakan menjadi 2 hal, yaitu jika yang dipikirkan itu ada di luar pikiran, dam kalau yang dipikirkan ada dalam pikiran. Pada intinya kita harus dapat membuat orang lain memikirkan dahulu apa yang ingin kita jelaskan. kemudian barulah kita mencari cara yang tepat untuk menjelaskan pemikiran kita. Selain itu, membuat orang lain berpikir ada yang ingin kita jelakan tidak harus membuat orang lain mengalaminya. Jadi berpikir tanpa pengalaman tentu adalah sesuatu yang mungkin. Misalnya saja kita berpikir takut kepad singa walaupun kita tidak pernah mengalami kejadian yang menakutkan dengan singa secara langung. Itulah kekuatan berpikir. Walaupun sebenarnya pikiran kita ada batasnya, yaitu tidak mungkin kita dapat menjelaskan semua yang ada dan yang mungkin ada.
Pertanyaan ketiga adalah ‘ Bagaimana mengembangkan orisinal pikiran kita tanpa terpengaruh pemikiran orang lain?’. Pertanyataan seperti ini menunjukkan anggapan bahwa pemikiran orang lain itu cenderung tidak baik. Padahal sebenarnya kita tidak dapat menghakimi pemikiran orang lain buruk, karena banyak pula pemikiran orang lain yang malah lebih baik dari pemikiran kita. Menganggap bahwa pemikiran orang lain buruk dan obsesi membuat orisinalitas pemikiran sendiri dapat membuat kita terisolir dari pemikiran dan dunia luar. Padahal manusia hidup itu dipenuhi dengan interaksi dan hidup it uterus mengalir. Bahkan tidak ada satu filsuf pun yang pemikirannya tidak terpengaruh filsuf lainnya.
Membangun ilmu pengetahuan berdasar pada 2 hal, yaitu pikiran dan pengalaman. Jika kita ingin membangun filsafat kita, maka dasarnya juga dari 2 hal itu, pikiran dan pengalaman. dan yang namanya pengalaman adalah suatu hal yang masing- masing orang berbeda. Tidak ada satu orang pun yang memiliki pengalaman yang sama persis, pasti ada yang berbeda. Ada oarag yang diberi kesempatan memiliki pengalaman sebgai orang miskin, atau pergi ke luar negeri, atau bertemu dengan presiden , tetapi tentu ada pula orang yang yang tidak diberi kesempatan untuk merasakan itu semua. Oleh karena itu untuk mengembangan filsafat kita, berbagai pikiran daengan orang lain adalah sesuatu yang sangat penting. Sharing pemikiran menjadi keuntungan bagi kita, karena dengan begitu kita dapat saling berbagi pengalaman dan pemikiran. Hal- hal yang tidak dialami oleh kita tetapi dialami oleh teman kita dapat disharing di sini. Sehingga pengetahuan kita tentunya akan semakin bertambah. Kemudian pada akhirnya dari pengalaman, pemikiran, dan kegiatan berbagi tu kita dapat mengambil hal- hal yang sekiranya sesuai dengan karakter kita dan itu menjadi filsafat dan pemikiran kita.
Pertanyaan selanjutnya masih mengenai orisinalitas, tetapi kali ini berfokus kepada orisinalitas dalam berpikir. Agar pemikiran kita orisinil, maka yang pertama kita lakukan adalah mencari pure reason, alas an yang murni untuk berpikir. Yakni terbebas dari segala kedengkian dan pikiran lain sebaiknya disingkirkan dulu, bukan dibuang, tetapi disimpan. Baru kemudian kita dapat berpikir dengan baik.
Selanjutnya kita perlu memikirkan bahwa hidup itu mengubah yang mungkin ada menjadi ada. Filsafat pun demikian disadari atau tidak. Yang ada adalah apa yang kita miliki pada masa lampau dan sekarang, dan yang mungkin ada adalah apa yang ada masa depan, harapan dan cita- cita kita. Maka hidup itu pasti isinya adalah ikhtiar dan berusaha, berusaha mewujudkan cita- cita menjadi nantinya sesuatu yang benar- benar terjadi. Kemudian mengembangkan pola piker filsafat, yaitu dengan metode hidup, Caranya kita dapat melihat sekeliling, melihat bagaimana tanaman hidup, bagaimana burung hidup, secara makro dan mikro. Memperhatikan hal – hal seperti itu membantu kita melihat dunia dari sisi yang berbeda. Lalu setelah memperhatikan segalanya, perhatikan bumi dan tirulah bumi. Mengapa? Bumi selalu perputar pada porosnya, bumi tidak pernah menempati tempat yang sama. Demikian pula dengan kita yang tinggal di bumi. Tentunya kita tidak pernah menempati ruang dan waktu yang sama. Maka teruslah berpikir dan berfilsafat.
Ada seorang spiritualis berucap :’ Aku sedang melihat orang ramai lalu lalang, tetapi sebagaian besar dari mereka bagainya mayat yang berjalan’ Mengapa? Karena mereka lupa tidak ada doa dalam hatinya. Ternyata seorang filsuf pun berpendapat demikian, tetapi dengan alas an yang berbeda, yaitu ‘Karena sebagaian besar dari orang yang lalu lalang itu tidak berpikir, tidak memikirkan pengalamannya’. Jadi pola piker filsafat itu adalah berpikir terus menerus, ikhtiar untuk mencapai keseimbangan, karena akhir yang kita inginkan  untuk sukses adalah harmonis dan seimbang.

Pertanyaan yang muncul :
Ketika kita mempelajari seatu pengetahuan pasti kita didasari oleh rasa bingung dan ingin tahu, kemudian saat menggali lebih dalam pengetahuan itu mucul rasa bingung baru kemudian muncul rasa ingin tahu untuk menggali lebih dalam lagi, demikian seterusnya. Apakah siklus itu selalu terjadi, atau kah pada akhirnya kita akan berhenti pada satu titik ketika rasa bingung itu tidak ada?

















































            Sebelum membahas jauh tentang arti filsafat, alangkah baiknya kita membahas posisi dan kedudukan filsafat terlebih dahulu. Filsafat seperti halnya dunia, dapat ditempatkan di depan kata apapun. Filsafat matematika, filsafat pendidikan, filsafat pendidikan matematika, filsafat hidup, filsafat mati, filsafat lahir, dan sebagainya. Walaupun demikian dalam substansinya nanti, filsafat dapat pula diletakkan di tengah maupun di akhir suatu hal. Berbicara tentang filsafat memang tidak semudah yang dikira banyak orang.
            Dalam hal ini, filsafat akan dikhususkan ke pendidikan matematika, tetapi sebelum itu, kita harus membenahi cara berpikir kita dan menyiapkan hati dan pikiran untuk siap menerima arti dan definisi filsafat. Baru setelah itu kita akan masuk ke pendidikan matematika. Mempelajari filsafat membutuhkan suatu kebebasan, kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat, bebas dari motif dan tekanan lain yang biasa kita dapatkan dari luar diri kita. Berbeda dengan di saat mempelajari hal atau ilmu lain. Dalam mempelajari filsafat , sebaiknya dalam kedaaan tenang dan ‘berhenti sejenak’ dengan aktifitas yang tengah dijalani.
            Kecanggungan mungkin akan dirasakan ketika mempelajari filsafat, karena pada awalnya kita terbiasa dengan mempelajari sesuatu yang pasti, sedang pada filsafat terkadang tidak semua yang dipelajari akan menjadi pasti pada akhirnya. Kebanyakan filosof berujung pada kebingungan ketika mempelajari filsafat sampai batas dimana akal manusia sulit menerima. Itulah kenapa dalam berfilsafat, sehatin pikiran yang bekerja, hati dan iman juga harus menjadi pengontrolnya. Selain itu setiap persoalan itu pada dasarnya dapat kita anggap sebagai tantangan, yang pada akhirnya pasti akan muncul kemudahan disana. Begitu pula dengan kesulitan kita mempelajari filsafat, pada akhirnya pasti akan menemukan titik cerah dan titik kesimbangan dimana kita akhirnya dalam berhenti sejenak dari aktivitas dan merefleksikan segala sesuatu tetapi tanpa tersesat karena tidak berpegang pada hati dan iman.
            Filsafat dapat didefinisikan menjadi apa saja. Dan asumsi adalah salah satu tata cara berfilsafat. Walapun pada dasarnya tata cara itulah atau asumsi itu sendiri dapat pula menjadi filsafat itu sendiri. Asumsi yang pertama adalah, asumsi bahawa kita adalah orang dewasa, dewasa dalam berpikir dan berperilaku. Hal ini tentu saja dibutuhkan untuk dapat memahami filsafat. Dewasa berarti kita sudah berbeda dengan anak- anak dan remaja yang masih labil. Kita masih memiliki rasa ingin tahu sama halnya anak kecil, tetapi kita tentu mengungkap rasa ingin tahu itu dengan cara yang berbeda. Kita tentunya dapat pula bertingkah sesuai dengan kemauan kita, tetapi tentu saja tidak lagi sebebas dengan dahulu ketika masih menjadi anak- anak. Itulah yang dibutuhkan untuk dapat menerima dan memahami filsafat, yaitu penalaran logika dan pengalaman. Logika dan pengalaman, kedua hal ini dibutuhkan untuk memahami segala sesuatu yang abstrak. Logika mungkin dimikili oleh seorang anak kecil yang jenius, tetapi pengalaman tidak dapat diperoleh secara instan begitu saja, pengalaman didapat secara terus menerus dan berkelanjutan seperti halnya hidup ini berjalan.
            Asumsi yang kedua adalah  ,jika hidup itu diibaratkan sebuah perjalanan, maka saat ini adalah saat dimana kita sedang berlari kencang, mengejar potensi- potensi kita agar nantinya menjadi fakta. Sebagai mahasiswa kita baru menjadi calon sarjana, orang yang berpotensi menjadi sarjana, tetapi belum menjadi sarjana, calon pegawai, belum menjadi pegawai, calon wirausahawan sukses, tetapi belum menjadi fakta. Dan sekali lagi, dalam kedaan berlari kencang seperti itu, kita sebaiknya berhenti sejenak dan melihat sekeliling, dan seperti itulah asumsi kedua filsafat, mengolah pikiran kita.
            Asumsi yang ketiga adalah filsafat itu hidup. Hidup itu adalah ketika kita memiliki pikiran, perasaan, ada daya, upaya, mampu berkata , menulis, dan banyak hal lainnya. Asumsi yang keempat adalah sifat hidup. Tentunya sifat- sifst hidup ini adalah sifat hidup yang baik. Yaitu hidup yang seimbang dan harmonis. Sekacau apapun sesuatu di dunia ini, pada akhirnya pasti pada akhirnya mencari keseimbangan, demikian pula manusia dalam hidupnya, mencari keseimbangan dan harmoni.
            Dari beberapa asumsi itu, dapat disimpulkan bahwa mempelajari filsafat itu tidak sama dengan mempelajari ilmu lain. Mempelajari filsafat pada akhirnya akan berujung pada terbangunnya filsafat diri masing- masing. Karena masing- masing orang memiliki hidup yang unik, pengalaman yang unik, tidak ada satupun dari masing- masing orng di dunia mendapatan situasi, kondisi dan pengalaman hidup yang sama persis, dan begitu pula dengan filsafatnya. Tetapi satu hal yang harus diingat bahwa dalam berfilsafat kita boleh melangkah dan berpikir jauh, tetapi tetap berbegang pada hati. Jika kita berfilsafat satu langkah, maka kita perlu berdoa dan mendekatkan diri dengan Tuhan sebanyak 10 langkah. Hati hendaknya menjadi komandan setiap saat.
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar