Jumat, 21 September 2012

Start to Build Your Own Philosophy, Membangun Filsafatmu Sendiri


Refleksi Kuliah Rabu, 19 September 2012
Dosen : Prof. Dr. Marsigit . Kelas : Pend. Matematika Bilingual 2009 Jurdikmat UNY

            Sebelum membahas jauh tentang arti filsafat, alangkah baiknya kita membahas posisi dan kedudukan filsafat terlebih dahulu. Filsafat seperti halnya dunia, dapat ditempatkan di depan kata apapun. Filsafat matematika, filsafat pendidikan, filsafat pendidikan matematika, filsafat hidup, filsafat mati, filsafat lahir, dan sebagainya. Walaupun demikian dalam substansinya nanti, filsafat dapat pula diletakkan di tengah maupun di akhir suatu hal. Berbicara tentang filsafat memang tidak semudah yang dikira banyak orang.
            Dalam hal ini, filsafat akan dikhususkan ke pendidikan matematika, tetapi sebelum itu, kita harus membenahi cara berpikir kita dan menyiapkan hati dan pikiran untuk siap menerima arti dan definisi filsafat. Baru setelah itu kita akan masuk ke pendidikan matematika. Mempelajari filsafat membutuhkan suatu kebebasan, kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat, bebas dari motif dan tekanan lain yang biasa kita dapatkan dari luar diri kita. Berbeda dengan di saat mempelajari hal atau ilmu lain. Dalam mempelajari filsafat , sebaiknya dalam kedaaan tenang dan ‘berhenti sejenak’ dengan aktifitas yang tengah dijalani.
            Kecanggungan mungkin akan dirasakan ketika mempelajari filsafat, karena pada awalnya kita terbiasa dengan mempelajari sesuatu yang pasti, sedang pada filsafat terkadang tidak semua yang dipelajari akan menjadi pasti pada akhirnya. Kebanyakan filosof berujung pada kebingungan ketika mempelajari filsafat sampai batas dimana akal manusia sulit menerima. Itulah kenapa dalam berfilsafat, sehatin pikiran yang bekerja, hati dan iman juga harus menjadi pengontrolnya. Selain itu setiap persoalan itu pada dasarnya dapat kita anggap sebagai tantangan, yang pada akhirnya pasti akan muncul kemudahan disana. Begitu pula dengan kesulitan kita mempelajari filsafat, pada akhirnya pasti akan menemukan titik cerah dan titik kesimbangan dimana kita akhirnya dalam berhenti sejenak dari aktivitas dan merefleksikan segala sesuatu tetapi tanpa tersesat karena tidak berpegang pada hati dan iman.
            Filsafat dapat didefinisikan menjadi apa saja. Dan asumsi adalah salah satu tata cara berfilsafat. Walapun pada dasarnya tata cara itulah atau asumsi itu sendiri dapat pula menjadi filsafat itu sendiri. Asumsi yang pertama adalah, asumsi bahawa kita adalah orang dewasa, dewasa dalam berpikir dan berperilaku. Hal ini tentu saja dibutuhkan untuk dapat memahami filsafat. Dewasa berarti kita sudah berbeda dengan anak- anak dan remaja yang masih labil. Kita masih memiliki rasa ingin tahu sama halnya anak kecil, tetapi kita tentu mengungkap rasa ingin tahu itu dengan cara yang berbeda. Kita tentunya dapat pula bertingkah sesuai dengan kemauan kita, tetapi tentu saja tidak lagi sebebas dengan dahulu ketika masih menjadi anak- anak. Itulah yang dibutuhkan untuk dapat menerima dan memahami filsafat, yaitu penalaran logika dan pengalaman. Logika dan pengalaman, kedua hal ini dibutuhkan untuk memahami segala sesuatu yang abstrak. Logika mungkin dimikili oleh seorang anak kecil yang jenius, tetapi pengalaman tidak dapat diperoleh secara instan begitu saja, pengalaman didapat secara terus menerus dan berkelanjutan seperti halnya hidup ini berjalan.
            Asumsi yang kedua adalah  ,jika hidup itu diibaratkan sebuah perjalanan, maka saat ini adalah saat dimana kita sedang berlari kencang, mengejar potensi- potensi kita agar nantinya menjadi fakta. Sebagai mahasiswa kita baru menjadi calon sarjana, orang yang berpotensi menjadi sarjana, tetapi belum menjadi sarjana, calon pegawai, belum menjadi pegawai, calon wirausahawan sukses, tetapi belum menjadi fakta. Dan sekali lagi, dalam kedaan berlari kencang seperti itu, kita sebaiknya berhenti sejenak dan melihat sekeliling, dan seperti itulah asumsi kedua filsafat, mengolah pikiran kita.
            Asumsi yang ketiga adalah filsafat itu hidup. Hidup itu adalah ketika kita memiliki pikiran, perasaan, ada daya, upaya, mampu berkata , menulis, dan banyak hal lainnya. Asumsi yang keempat adalah sifat hidup. Tentunya sifat- sifst hidup ini adalah sifat hidup yang baik. Yaitu hidup yang seimbang dan harmonis. Sekacau apapun sesuatu di dunia ini, pada akhirnya pasti pada akhirnya mencari keseimbangan, demikian pula manusia dalam hidupnya, mencari keseimbangan dan harmoni.
            Dari beberapa asumsi itu, dapat disimpulkan bahwa mempelajari filsafat itu tidak sama dengan mempelajari ilmu lain. Mempelajari filsafat pada akhirnya akan berujung pada terbangunnya filsafat diri masing- masing. Karena masing- masing orang memiliki hidup yang unik, pengalaman yang unik, tidak ada satupun dari masing- masing orng di dunia mendapatan situasi, kondisi dan pengalaman hidup yang sama persis, dan begitu pula dengan filsafatnya. Tetapi satu hal yang harus diingat bahwa dalam berfilsafat kita boleh melangkah dan berpikir jauh, tetapi tetap berbegang pada hati. Jika kita berfilsafat satu langkah, maka kita perlu berdoa dan mendekatkan diri dengan Tuhan sebanyak 10 langkah. Hati hendaknya menjadi komandan setiap saat.
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar