Kamis, 13 Desember 2012

Pertanyaan Seputar Filsafat Pendidikan Matematika

Refleksi Kuliah Rabu,12 Desember 2012
Kuliah Filsafat Pendidikan Matematika
Dosen : Prof. Dr. Marsigit


1.      Bagaimana memberikan ruang bagi siswa untuk belajar secara intuitif padahal system pembelajaran saat ini belum mendukung?
Jawab:
Kita berpikir yang positif saja. Bagaimanapun sistemnya dalam pendidikan , guru dipercaya untuk mengajar untuk mengajar di kelas. Berkomunikasi dengan siswa itu kegiatan guru, manfaatkan untuk mengembangkan intuisi siswa. Karena kita tahu 80% kehidupan kita lakukan dengan intuisi. Matang, enak, panjang, pendek, tua, muda, cantik, dan lain sebagaimanya. Begitu pula dengan pendidikan matematika. Tidak perlu semua didefinisikan , ada kalanya kita harus membiarkan siswa menemukan intuisinya dengan pemahamannya sendiri. Guru membimbing agar siswa tidak tersesat. Tetapi pemahaman perlu didapat siswa dengan intuisinya, sehingga pembelajaran lebih bermakna.
Jadi alangkah baiknya jika pembelajaran dimulai dengan intuisi. Cara adalah dengan eksplorasi. Biarkan siswa mengeksplorasi pengetahuannya. Caranya menggapai u=intuisi bagi siswa adalah dengan matematika konkrit. Pembelajaran dan materi usahakan sekonkrit mungkin dan kontekstual dengan pengalaman siswa, sehingga siswa tidak memandang matematika sebagai sesuatu yang abstrak tetapi matematika sebagai suatu aktivitas di kehidupan sehari hari.
2.      Bagaimana mengajarkan matematika kontradiktif pada siswa?
Jawab:
Siswa tidak perlu tahu tentang filsafat pendidikan matematika secara langsung dari guru. Pemahaman tersebut cukup disimpan oleh guru sebagai dasaran dan pengetahuan selama mengajar. Siswa seklah belum mampu untuk mencerna matematika sebagai suatu kontradiktif. Suatu hal yang naïf sekali jika sampai guru sampai mengajarkan matematika kontradiktif kepada siswa.
3.      Ujian Nasional adalah tembok besar yang menghalangi terciptanya pembelajaran yang eksploratif dan system penilaian yang portofolio dan sesuai dengan context masing- masing daerah. Bagaimana solusinya? Apa dasaran diadakan UN sebenarnya?
Jawab:
Alasan diadakannya Ujian nasional sebenarnya salah satunya adalah ketidakpercayaan pemerintah kepada guru. Guru dipercaya untuk mengajar siswa tetapi tidak dipercaya untuk melakukan evaluasi akhir yakni meluluskan siswa. Sehingga diadakanlan ujian nasional seperti saat ini. Kurikulum didesain atas ketidakpercayaan kepada guru. Sebenarnya UN tidak diperlukan jika guru dapat dipercaya. Hal ini sangat controversial. Guru dibayar dan dipercaya untuk mengajar, tetapi tidak dipenuhnya dipercaya.
Solusi awalnya dahulu adalah jika ingin masuk suatu sekolah dengan seleksi, tetapi pada akhirnya system seleksi inipun tidak dilanjutkan karenabanyak kasus curang. Akhirnya system penerimaan siswa baru kembali ke system nilai UN.
UN dilakukan sebagai penentu kelulusan dengan standar yang dari tahun ketahun ditingkatkan. Berbasis internasional juga dijadikan salah satu dasaran , padahal yang terpenting adalah local genius, yakni system internasional ambil saja frameworknya tetapi tidak dengan substansinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar