Kuliah Filsafat Pendidikan Matematika
Dosen : Prof. Dr. Marsigit
1. Bagaimana memberikan ruang bagi siswa
untuk belajar secara intuitif padahal system pembelajaran saat ini belum
mendukung?
Jawab:
Kita berpikir yang positif saja.
Bagaimanapun sistemnya dalam pendidikan , guru dipercaya untuk mengajar untuk
mengajar di kelas. Berkomunikasi dengan siswa itu kegiatan guru, manfaatkan
untuk mengembangkan intuisi siswa. Karena kita tahu 80% kehidupan kita lakukan
dengan intuisi. Matang, enak, panjang, pendek, tua, muda, cantik, dan lain
sebagaimanya. Begitu pula dengan pendidikan matematika. Tidak perlu semua
didefinisikan , ada kalanya kita harus membiarkan siswa menemukan intuisinya
dengan pemahamannya sendiri. Guru membimbing agar siswa tidak tersesat. Tetapi
pemahaman perlu didapat siswa dengan intuisinya, sehingga pembelajaran lebih
bermakna.
Jadi alangkah baiknya jika
pembelajaran dimulai dengan intuisi. Cara adalah dengan eksplorasi. Biarkan
siswa mengeksplorasi pengetahuannya. Caranya menggapai u=intuisi bagi siswa
adalah dengan matematika konkrit. Pembelajaran dan materi usahakan sekonkrit
mungkin dan kontekstual dengan pengalaman siswa, sehingga siswa tidak memandang
matematika sebagai sesuatu yang abstrak tetapi matematika sebagai suatu
aktivitas di kehidupan sehari hari.
2. Bagaimana mengajarkan matematika
kontradiktif pada siswa?
Jawab:
Siswa tidak perlu tahu tentang
filsafat pendidikan matematika secara langsung dari guru. Pemahaman tersebut
cukup disimpan oleh guru sebagai dasaran dan pengetahuan selama mengajar. Siswa
seklah belum mampu untuk mencerna matematika sebagai suatu kontradiktif. Suatu
hal yang naïf sekali jika sampai guru sampai mengajarkan matematika
kontradiktif kepada siswa.
3. Ujian Nasional adalah tembok besar
yang menghalangi terciptanya pembelajaran yang eksploratif dan system penilaian
yang portofolio dan sesuai dengan context masing- masing daerah. Bagaimana
solusinya? Apa dasaran diadakan UN sebenarnya?
Jawab:
Alasan diadakannya Ujian nasional
sebenarnya salah satunya adalah ketidakpercayaan pemerintah kepada guru. Guru
dipercaya untuk mengajar siswa tetapi tidak dipercaya untuk melakukan evaluasi
akhir yakni meluluskan siswa. Sehingga diadakanlan ujian nasional seperti saat
ini. Kurikulum didesain atas ketidakpercayaan kepada guru. Sebenarnya UN tidak
diperlukan jika guru dapat dipercaya. Hal ini sangat controversial. Guru
dibayar dan dipercaya untuk mengajar, tetapi tidak dipenuhnya dipercaya.
Solusi awalnya dahulu adalah jika
ingin masuk suatu sekolah dengan seleksi, tetapi pada akhirnya system seleksi
inipun tidak dilanjutkan karenabanyak kasus curang. Akhirnya system penerimaan
siswa baru kembali ke system nilai UN.
UN dilakukan sebagai penentu
kelulusan dengan standar yang dari tahun ketahun ditingkatkan. Berbasis
internasional juga dijadikan salah satu dasaran , padahal yang terpenting
adalah local genius, yakni system
internasional ambil saja frameworknya tetapi tidak dengan substansinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar