Refleksi Kuliah Rabu,7 November 2012 (Ke-4)
Dosen : Prof. Dr. Marsigit . Kelas Pendidikan Matematika Bilingual 2009. Jurdikmat UNY
Berfilsafat itu meliputi banyak hal,
terkait dengan banyaknya pula pendapat para filsuf. Pikiran, sejarah, logika,
pengalaman berpikir dan pengalaman lainnya termasuk di dalamnya adalah filsafat.
Berfilsafat, kta perlu mendeskripsikan secara lebih rinci dan derail tentang
yang ada dan yang mungkin ada. Untuk itu kita perlu menembus ruang dan waktu.
Apa yang dimaksud dengan menembus ruang dan waktu? Apakah kita semua sedang
menembus ruang dan waktu? Jawabannya tentu saja iya. Jangankan kita, orang
awam, anak kecil, binatang, tumbuhan, bahkan batu saja dapat menembus ruang dan
waktu. Sebuah batu melewati masa lampau sekarang dan masa depan, sebuah batu
juga mengalami tempat dimana banyak hujan dan tempat dimana banyak panas di
sekitarnya. Hal ini adalah contoh sederhana bagaimana sebuah batu saja dapat
menembus ruang dan waktu.
Sebagai makhluk yang berpikir, tentu
saja kita tidak begitu saja menembus ruang dan waktu. Ada 3 bekal yang
dibutuhkan sehingga kita dapat menembus ruang dan waktu secara canggih dan
professional, tidak sekedar menembus ruang dan waktu tanpa kita sadari dan
tidak kita pikirkan seperti layaknya hewan, tumbuhan, atau benda mati. Hal yang
pertama adalah memahami apa yang dimaksud dengan ruang dan waktu. Yang kedua
adalahpaham tentang adanya filsafat fenomenologi, dan yang ketiga adalah
memahami adanya filsafat fondosionalism dan antithesisnya yaitu
antifondasionalism.
Bekal pertama adalah memahami apa
yang disebut ruang dan waktu. Ruang- ruang yang kita tahu itu berdimensi.
Secara umum di matematika ada ruang dimensi 1, 2, 3, 4, dan seterusnya. Tapi
selain ruang- ruang tersebut kita memiliki ruang- ruang lain yaitu ruang
berfilsafat. Ada 4 yaitu ruang spiritual, ruang formalis, ruang normative, dan
ruang material. Masing- masing ruang memiliki tingkatan. Misalnya ruang
spiritual seorang manusia setinggi- tingginya tidak akan melebihi tingkatan
nabi, dan serendah rendahnya adalah ketika manusia tidak percaya Tuhan. Maka
dalam filsafat, manusia berada pada ruang berdimensi tak hingga banyaknya.
Ruang dan waktu juga menjadi orientasi kita selama menjalani hidup. Itulah
kenapa pada tes kejiwaan, sering digunakan tes orientasi ruang dan waktu. Orang
yang sakit jiwa kebanyakan mengalami disorientasi ruang dan waktu, ia tidak
dapat memahami kapan dan dimana ia berada dengan benar. Sedangkan komponen
kedua yaitu waktu yang kita tahu terbagi menjadi 3 yaitu waktu yang berlilitan,
berkelanjutan, dan berkesatuan.
Bekal yang kedua adalah pemahaman
tentang fenomenologi. Tokoh filsafat yang terkenal yang mendalami filsafat
fenomenologi adalah Husserl. Dipaparkan bahwa ada 2 isi pokok dari fenomenologi
yaitu abstraksi dan idealisasi. Terkesan formal, tetapi teori ini sebenarnya
sangat dekat dengan kita.Bahasan isi pokok yang akan dibahas lebih lanjut
adalah abstraksi. Apa itu abstraktif? Jadi sebenar- benar manusia itu adalah
abstraktif. Manusia memilki kelebihan melihat apa saja yang didepan tetapi
memiliki kelemahan tidak dapat melihat objek yang bertolak belakang dengan
mata. Hal ini menyebabkan manusia harus memilih yang dilihat. Demikian pula
untuk berpikir, manusia tidak dapat memikirkan segalanya pada saat yang sama.
Dan hal serupa juga dialami manusia ketika berbicara, manusia tidak dapat
sekaligus mengatakan apa yang dipikirkannya. Itulah alasannya manusia itu
abstraktif. Ia harus memilih yang dilihat, dipikirkan, dan yang dikatakan.
Bahkan kodrat manusia pun abstraktif. Tiap manusia hanya dilahirkan dari 1 ibu
dari milyaran ibu yang ada.
Karena abstraktif atau reduksi inilah
Husser membangun rumah yang disebut rumah Epoche. Yaitu rumah untuk membuang
atau menyimpan apa saja yang tidak dipikirkan. Dalam arti harfiahnya adalah
melupakan. Menggunakan Epoche sebenarnya sudah kita lakukan sejak lama tetapi
mungkin tidak kita sadari. Berpikir matematis pun butuh epoche. Contohnya
adalah memikirkan tentang segitiga, 95% sifat segitiga bisa jadi tidak perlu
kita pikirkan. Yang perlu diperhatikan hanya ukuran dan bentuknya saja.
Bekal yang ketiga adalah memahami apa
itu fondasionalism dan
antifondasionalism. Fondasionalism artinya memiliki dasaran. Kaum beragama
misalnya, adalah kaum yang berfondasi bahwa Tuhan adalah kausa prima. Orang
yang menikah, adalah kaum fondasionalism yang berfondasi pada ijab qabul.
Contoh lainnya adalah para matematikawan murni, mereka adalah kaum
fondalisionalism, karena mereka berpikir berdasarkan pada definisi- definisi,
aksioma, teorema, dan seterusnya. Namun ternyata tidak semua yang ada di dunia
ini bersifat fondasionalism. 90% hal di dunia ini berdasarkan pada intuisi
yaitu antifondasionalism. Antifondasionalism adalah ketika kita tidak tahu
kapan harus memulai, misalnya apakah kita bisa mengingat secara pasti kapan
kita mengetahui apa itu besar dan kecil? Tentu saja sangat sulit, karena
pemahaman besar dan kecil adalah suatu intuisi yang kita miliki.Bagaimana
dengan pemahaman arti 2? Pakah 2 adalah 1+1? 2 kai 1? Bilangan prima? Memahami
2 bagi anak kecil yang belum sekolah tidak perlu definisi, 2 adalah jumlah
tangan, jumlah mata. Mataku ada 2 . demikian kata anak balita. Jadi banyak hal
di dunia ini yang menggunakan intuisi. Dan kurang berkembangnya matematika,
bida jadi karena berpikir intuitif anak sudah terenggut oleh cara guru matematika
mengajar. Sehingga anak hanya terkesan mengikuti arus dan rumus matematika yang
diberikan, tanpa diberikan kesempatan menggunakan intuisinya.
Pertanyaan:
Bagaimana contoh mengajarkan
matematika agar siswa menggunakan intuisinya?