By Dr. Marsigit, MA
Reviewed by Rosa Ardiyati (http://rosardiyati.blogspot.com/)
Regular Mathematics Education 2009 ( NIM. 09301241032 )
Standar nasional pengajaran matematika di Indonesia masih minim dengan bukti siswa-siswa kita mulai dari nilai afektif, kognitif, dan psikomotornya. Itu berarti bahwa pemerintah masih harus mendorong para guru untuk mengembangkan kemampuan siswa dengan memanfaatkan lingkungan aktifitas siswa sehingga siswa bias berpikir secara logika, analitik, sistematik, kreatif, dan mampu menyatukan semua elemen itu.
Untuk melakukan itu, matematika harus sangat dekat dengan dunia siswa sehingga mereka bisa mendapatkan pengalaman untuk menemukan matematika itu sendiri. Seperti konsep Iceberg ini yang merupakan titik awal siswa untuk mendapatkan pengalaman nyata termasuk dalam aktifitas matematika mereka sendiri. Salah satunya dengan mengajarkan matematika tentang pecahan. Ada 6 kelompok guru yang menyampaikan konsep iceberg untuk mengajarkan pecahan di tingkat SMP, yaitu pengurangan bilangan pecahan, persen dan permil, membandingkan nilai pecahan, pecahan desimal, bilangan campuran, dan pembagian pecahan.
Memang diawal, ini tidaklah mudah untuk guru menyalurkan dan memproses benda nyata ke dalam dunia matematika. Sehingga tampak ketidakyakinan guru ketika mengenalkan model konkrit ke siswa atau menunggu siswa untuk menemukan sendiri. Untuk model, guru harus mengembangkan representasi visual sehingga tampaklah hubungan antara konsep, relasi, dan operasi pada pecahan itu sendiri. Guru merasa bahwa pengertian dugaan dari pecahan , relasi dan operasinya akan muncul dengan membentuk sebuah kelompok – kelompok diskusi kecil. Siswa akan menemukan minatnya ketika mereka mendapatkan pengertian yang sebenarnya dari pecahan itu.
Banyak guru membawa pengaruh besar untuk usaha mereka dalam mengembangkan konsep Iceberg dalam mengajarkan pecahan. Dalam pengembangan konsep ini, para guru berharap bahwa ada minat dari para siswa untuk menyatakan bahwa pecahan tidak hanya seluruhnya angka tapi juga bilangan rasional. Meskipun konsep Iceberg menguatkan siswa untuk membangun konsep mereka sendiri tentang pecahan, masih ada kesulitan bagi siswa untuk menyelesaikan masalah yang diekspresikan dengan simbol. Akan tetapi mereka bisa menyelesaikan masalah yang serupa dalam konteks dunia nyata. Sebagian besar guru mengakui bahwa representasi dari pecahan dapat sangat abstrak dan menjadi sulit untuk siswa. Sementara itu mereka juga menemukan konsep Iceberg sangat penting dan berguna sebagai pendekatan pengajaran pecahan di tingkat SMP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar