Refleksi
Kuliah Rabu, 19 September 2012
Dosen : Prof. Dr. Marsigit . Kelas : Pend. Matematika Bilingual 2009 Jurdikmat UNY
Sebelum membahas
jauh tentang arti filsafat, alangkah baiknya kita membahas posisi dan kedudukan
filsafat terlebih dahulu. Filsafat seperti halnya dunia, dapat ditempatkan di
depan kata apapun. Filsafat matematika, filsafat pendidikan, filsafat
pendidikan matematika, filsafat hidup, filsafat mati, filsafat lahir, dan
sebagainya. Walaupun demikian dalam substansinya nanti, filsafat dapat pula
diletakkan di tengah maupun di akhir suatu hal. Berbicara tentang filsafat
memang tidak semudah yang dikira banyak orang.
Dalam
hal ini, filsafat akan dikhususkan ke pendidikan matematika, tetapi sebelum
itu, kita harus membenahi cara berpikir kita dan menyiapkan hati dan pikiran
untuk siap menerima arti dan definisi filsafat. Baru setelah itu kita akan
masuk ke pendidikan matematika. Mempelajari filsafat membutuhkan suatu
kebebasan, kebebasan berpikir, kebebasan berpendapat, bebas dari motif dan
tekanan lain yang biasa kita dapatkan dari luar diri kita. Berbeda dengan di
saat mempelajari hal atau ilmu lain. Dalam mempelajari filsafat , sebaiknya
dalam kedaaan tenang dan ‘berhenti sejenak’ dengan aktifitas yang tengah
dijalani.
Kecanggungan
mungkin akan dirasakan ketika mempelajari filsafat, karena pada awalnya kita
terbiasa dengan mempelajari sesuatu yang pasti, sedang pada filsafat terkadang
tidak semua yang dipelajari akan menjadi pasti pada akhirnya. Kebanyakan
filosof berujung pada kebingungan ketika mempelajari filsafat sampai batas
dimana akal manusia sulit menerima. Itulah kenapa dalam berfilsafat, sehatin
pikiran yang bekerja, hati dan iman juga harus menjadi pengontrolnya. Selain
itu setiap persoalan itu pada dasarnya dapat kita anggap sebagai tantangan,
yang pada akhirnya pasti akan muncul kemudahan disana. Begitu pula dengan
kesulitan kita mempelajari filsafat, pada akhirnya pasti akan menemukan titik
cerah dan titik kesimbangan dimana kita akhirnya dalam berhenti sejenak dari
aktivitas dan merefleksikan segala sesuatu tetapi tanpa tersesat karena tidak
berpegang pada hati dan iman.
Filsafat
dapat didefinisikan menjadi apa saja. Dan asumsi adalah salah satu tata cara
berfilsafat. Walapun pada dasarnya tata cara itulah atau asumsi itu sendiri
dapat pula menjadi filsafat itu sendiri. Asumsi yang pertama adalah, asumsi
bahawa kita adalah orang dewasa, dewasa dalam berpikir dan berperilaku. Hal ini
tentu saja dibutuhkan untuk dapat memahami filsafat. Dewasa berarti kita sudah
berbeda dengan anak- anak dan remaja yang masih labil. Kita masih memiliki rasa
ingin tahu sama halnya anak kecil, tetapi kita tentu mengungkap rasa ingin tahu
itu dengan cara yang berbeda. Kita tentunya dapat pula bertingkah sesuai dengan
kemauan kita, tetapi tentu saja tidak lagi sebebas dengan dahulu ketika masih
menjadi anak- anak. Itulah yang dibutuhkan untuk dapat menerima dan memahami
filsafat, yaitu penalaran logika dan pengalaman. Logika dan pengalaman, kedua
hal ini dibutuhkan untuk memahami segala sesuatu yang abstrak. Logika mungkin
dimikili oleh seorang anak kecil yang jenius, tetapi pengalaman tidak dapat
diperoleh secara instan begitu saja, pengalaman didapat secara terus menerus
dan berkelanjutan seperti halnya hidup ini berjalan.
Asumsi
yang kedua adalah ,jika hidup itu
diibaratkan sebuah perjalanan, maka saat ini adalah saat dimana kita sedang
berlari kencang, mengejar potensi- potensi kita agar nantinya menjadi fakta.
Sebagai mahasiswa kita baru menjadi calon sarjana, orang yang berpotensi
menjadi sarjana, tetapi belum menjadi sarjana, calon pegawai, belum menjadi
pegawai, calon wirausahawan sukses, tetapi belum menjadi fakta. Dan sekali
lagi, dalam kedaan berlari kencang seperti itu, kita sebaiknya berhenti sejenak
dan melihat sekeliling, dan seperti itulah asumsi kedua filsafat, mengolah
pikiran kita.
Asumsi
yang ketiga adalah filsafat itu hidup. Hidup itu adalah ketika kita memiliki
pikiran, perasaan, ada daya, upaya, mampu berkata , menulis, dan banyak hal
lainnya. Asumsi yang keempat adalah sifat hidup. Tentunya sifat- sifst hidup
ini adalah sifat hidup yang baik. Yaitu hidup yang seimbang dan harmonis. Sekacau
apapun sesuatu di dunia ini, pada akhirnya pasti pada akhirnya mencari
keseimbangan, demikian pula manusia dalam hidupnya, mencari keseimbangan dan
harmoni.
Dari
beberapa asumsi itu, dapat disimpulkan bahwa mempelajari filsafat itu tidak
sama dengan mempelajari ilmu lain. Mempelajari filsafat pada akhirnya akan
berujung pada terbangunnya filsafat diri masing- masing. Karena masing- masing
orang memiliki hidup yang unik, pengalaman yang unik, tidak ada satupun dari
masing- masing orng di dunia mendapatan situasi, kondisi dan pengalaman hidup
yang sama persis, dan begitu pula dengan filsafatnya. Tetapi satu hal yang
harus diingat bahwa dalam berfilsafat kita boleh melangkah dan berpikir jauh,
tetapi tetap berbegang pada hati. Jika kita berfilsafat satu langkah, maka kita
perlu berdoa dan mendekatkan diri dengan Tuhan sebanyak 10 langkah. Hati
hendaknya menjadi komandan setiap saat.